Bagi santri tingkat dasar, terutama yang baru pertama kali berkenalan dengan teks Arab klasik (Kitab Kuning), proses pembelajaran sering kali diwarnai kesulitan dan kebingungan, yang berpotensi menyebabkan Kebuntuan Belajar. Dalam konteks ini, Metode Sorogan muncul sebagai solusi personal dan sangat efektif untuk Memecah Kebuntuan Belajar tersebut. Metode Sorogan memungkinkan intervensi pengajaran yang tepat sasaran dan spesifik, memastikan bahwa setiap hambatan akademik santri dapat diatasi dengan bimbingan langsung dari Kyai atau Ustadz.
Keefektifan Sorogan dalam Memecah Kebuntuan Belajar terletak pada fokusnya yang individual. Ketika santri menyodorkan bacaannya, Kyai dapat mengidentifikasi secara instan di mana letak kelemahan santri tersebut—apakah ia kesulitan dalam makharijul huruf (pengucapan huruf) saat membaca Al-Qur’an, atau bermasalah dalam menerapkan kaidah Nahwu (tata bahasa) saat membaca Kitab Kuning. Identifikasi yang cepat dan akurat ini sangat kontras dengan metode kelas yang massal, di mana kesulitan individual sering kali terlewatkan. Karena sifatnya yang tatap muka, Kyai dapat memberikan contoh, ulangan, atau teknik menghafal yang disesuaikan dengan gaya belajar spesifik santri tersebut.
Bagi santri yang mengalami kesulitan membaca (qira’ah) Al-Qur’an, misalnya, Sorogan memungkinkan pengulangan dan koreksi tajwid secara berulang-ulang hingga santri tersebut fasih. Dalam laporan bulanan pembelajaran Sorogan di Pondok Pesantren Tahfidz Al-Amin pada hari Rabu, 9 April 2025, tercatat bahwa santri yang awalnya kesulitan membedakan antara huruf kha’ dan ha’ berhasil memperbaiki pengucapannya hingga 90% akurat setelah menjalani sesi Sorogan intensif selama tiga minggu. Intensitas pertemuan ini membuat santri merasa lebih diperhatikan dan didukung, mengurangi rasa frustrasi yang merupakan akar dari kebuntuan.
Selain keterampilan membaca, Sorogan juga efektif dalam memastikan santri menguasai ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), yang merupakan kunci untuk membuka pemahaman Kitab Kuning. Ketika santri membaca teks, Kyai akan menguji pemahaman mereka tentang posisi kata (i’rab) dalam kalimat. Jika santri salah, Kyai akan memberikan penjelasan ulang dan contoh di tempat, secara efektif Memecah Kebuntuan Belajar tentang kaidah tersebut. Dengan adanya pengawasan mutu yang ketat, personal, dan korektif, Sorogan menjadi fondasi utama yang memungkinkan setiap santri di tingkat dasar untuk membangun kepercayaan diri dan melangkah maju ke tingkat pembelajaran berikutnya.
