Di tengah derasnya arus informasi di era media sosial, kemampuan untuk menyaring tutur kata dan informasi menjadi salah satu bentuk ketakwaan yang paling nyata. Melalui agenda rutin Kajian Baitil Hikmah, para santri dan jamaah diajak untuk merenungi kembali ajaran luhur mengenai etika berkomunikasi dalam Islam. Fokus utama kajian kali ini adalah membahas tentang pentingnya menjaga lisan sebagai cerminan kesucian hati dan kejernihan pikiran. Dalam tradisi pesantren, lisan dianggap sebagai pedang bermata dua yang jika tidak dikendalikan dengan iman, dapat melukai perasaan orang lain dan merusak tatanan sosial yang sudah terbangun dengan baik.
Pembahasan dalam kajian ini merujuk pada ayat-ayat suci dan hadis nabi yang menekankan bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan. Ustadz pembimbing di Baitil Hikmah menjelaskan bahwa setiap kata yang terucap akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karena itu, santri diajarkan untuk senantiasa berpikir sebelum berbicara, memastikan bahwa apa yang disampaikan memiliki nilai manfaat dan tidak mengandung unsur fitnah. Di era digital, konsep menjaga lisan ini meluas hingga ke jempol dan layar ponsel, di mana tulisan dan komentar di media sosial memiliki dampak yang sama besarnya dengan ucapan lisan.
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam kajian ini adalah perintah untuk Pentingnya Menjaga Lisan atau hoaks yang sering kali memicu perpecahan. Islam sangat menekankan prinsip tabayyun atau verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah informasi. Para santri dilatih untuk bersikap kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh judul-judul berita yang provokatif. Menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya bukan hanya kesalahan etika, tetapi juga merupakan dosa sosial yang dapat merugikan banyak pihak. Kajian ini memberikan panduan praktis mengenai cara mengenali ciri-ciri informasi yang tidak valid dan bagaimana bersikap bijak saat menghadapi perbedaan pendapat di ruang publik.
Menjaga lisan juga berarti menjauhi ghibah atau menggunjing keburukan orang lain. Dalam suasana pesantren yang kolektif, godaan untuk membicarakan sesama sangatlah besar. Melalui pendidikan karakter di Baitil Hikmah, santri diajak untuk lebih fokus pada perbaikan diri sendiri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Suasana yang harmonis di asrama hanya dapat tercipta jika setiap individu berkomitmen untuk saling menjaga kehormatan dengan tidak menyebarkan aib. Dengan lisan yang terjaga, hati akan menjadi lebih tenang dan fokus dalam menuntut ilmu akan lebih tajam. Inilah inti dari pembangunan akhlak yang ingin dicapai oleh institusi pendidikan agama.
