Di balik rutinitas padat menghafal kitab dan belajar di kelas formal, santri sering kali menghadapi tekanan psikologis yang tidak ringan. Jauh dari orang tua dan tuntutan akademik yang tinggi terkadang memicu rasa cemas atau kesepian. Pondok Pesantren Baitil Hikmah merespons tantangan ini dengan menghadirkan program curhat sebaya. Inisiatif ini dirancang bukan sekadar sebagai wadah berkeluh kesah, melainkan sebagai sistem pendukung untuk menjaga kesehatan mental santri agar tetap stabil dan produktif dalam menuntut ilmu.
Program ini melibatkan santri senior atau perwakilan dari setiap asrama yang telah dibekali dengan keterampilan konseling dasar. Mereka berperan sebagai pendengar aktif bagi rekan-rekannya yang sedang mengalami kendala emosional. Keunggulan dari model curhat sebaya adalah adanya tingkat kepercayaan yang tinggi. Sering kali, santri merasa lebih nyaman berbicara dengan teman seusia yang memahami dinamika kehidupan asrama daripada harus bercerita kepada pengasuh atau ustadz yang mungkin terasa berjarak.
Dalam setiap sesi, penekanan utama diberikan pada terciptanya ruang aman (safe space) tanpa penghakiman. Santri diajarkan untuk memahami bahwa mengungkapkan keresahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian untuk mencari solusi. Banyak masalah yang awalnya tampak sepele, seperti rasa rindu rumah yang mendalam (homesick) atau kesulitan beradaptasi dengan teman sekamar, jika dibiarkan akan menumpuk menjadi beban pikiran yang berat. Melalui curhat sebaya, masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi dan ditangani sejak dini.
Selain mendengarkan, para pengurus yang ditunjuk juga dibimbing oleh konselor profesional atau psikolog tamu untuk mengetahui batasan-batasan mereka. Mereka memahami kapan masalah tersebut bisa diselesaikan melalui dukungan emosional biasa, dan kapan harus dirujuk kepada pengasuh atau ahli medis. Sistem ini memastikan bahwa tidak ada santri yang berjuang sendirian di Baitil Hikmah. Kolaborasi antara pendekatan emosional sebaya dan supervisi ahli menciptakan ekosistem mental yang sehat bagi seluruh penghuni pondok.
Di luar sesi curhat formal, atmosfer kekeluargaan juga dibangun melalui aktivitas santai bersama. Diskusi ringan, olahraga bersama, atau sekadar berkumpul di waktu luang menjadi sarana preventif agar tekanan mental tidak menumpuk. Santri diajarkan untuk saling peka terhadap perubahan suasana hati teman di sekitarnya. Jika ada teman yang tiba-tiba menarik diri atau tampak kurang bersemangat, rekan sebaya diharapkan mampu merangkul dan menanyakan kondisi mereka dengan cara yang simpatik.
